Jumat, 14 Mei 2010

MODEL AKTIVITAS FISIK ANAK BESAR



A. Model-model latihan anak besar

v Latihan Fleksibilitas

Hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan latihan fleksibilitas pada tahap ini adalah :

• Rencanakan program latihan yang akan diterapkan

• Persiapkan (seandanya ada) fasilitas yang akan digunakan untuk membantu proses dan memperhatikan kenyamanan dan keamanannya

• Yakinkan bahwa kondisi anak baik untuk melakukan aktivitas latihan

• Apabila anak dalam jumlah yang cukup banyak maka pengaturan situasi perlu diperhatikan agar tetap ada dalam pengawasan

• Memberikan contoh gerakan yang benar dan dengan ketentuan yang jelas dan mudah dipahami (tugas gerak yang jelas dan mudah) oleh anak

• Perhatikan sistematika gerakan demi gerakan

• Gerakan yang salah harus sesegera mungkin diperbaiki malalui pendekatan yang tepat

• Untuk mendapatkan retensi yang baik lakukan dengan pengulangan yang cukup dan tidak terlalu banyak gerakan

v Latihan Kecepatan Gerak

Kecepatan gerak merupakan kemampuan yang terpenting dalam olahraga prestasi. Hampir semua hasil ditentukan oleh kemampuan ini apakah itu jenis olahraga permainan, olahraga beladiri, olahraga siklis, atau olahraga jenis akurasi sekali pun. Karena mayoritas atlet dituntut untuk melakukan lari (run), gerak (move), bereaksi (react), atau merubah arah (change direction) dengan cepat.

Kemampuan ini merupakan kemampuan yang telah dilahirkan (genetic) dan keturunan (herediter) tergantung pada komposisi tipe otot. Kontraksi otot yang cepat terjadi karena proporsi serabut otot cepat (fast twitch fibers) lebih banyak dibandingkan dengan serabut otot lambat (slow twitch fibers).

Pada anak usia tahap permulaan, pelatihan kemampuan ini lebih diarahkan pada bentuk permainan untuk mendapatkan speed, agility dan quickness-nya.

• Speed games

• Agility games

• Reaction games

• Quickness games

• Relays

Bentuk latihan tersebut dapat dilakukan secara terpisah dan atau kombinasi (gabungan).

v Latihan Kekuatan dan Stabilisasi

Kemampuan ini harus dilakukan secara hati-hati karena secara fisiologik kemampuan anak-anak usia ini masih sangat lemah. Oleh karena itu, latihan kemampuan ini dilakukan dengan menggunakan beban sendiri atau dengan alat yang ringan sehingga tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fungsionalnya.

Kemampuan kekuatan yang dituju lebih kepada daya tahan kekuatan yang berarti lebih memperhatikan volume karena pengulangannya dibandingkan dengan intensitas bebannya, serta irama gerakan yang tidak cepat.

Harus diperhatikan apabila kita akan memberikan latihan kekuatan lompatan hendaknya dilakukan dengan low impact.

Latihan penguatan (strengthening) yang juga akan membantu tingkat stabilitas saat bergerak pada anak usia ini adalah dengan latihan stabilisasi. Latihan ini boleh dikatakan dengan resiko cedera yang sangat minim dan bahkan untuk orang dewasa (atlet) latihan ini menjadi bagian dari latihan rehabilitasi atau penyembuhan dari cedera. Latihan ini akan lebih baik apabila sudah diperkenalkan pada anak-anak usia sekolah. Mengenai latihan stabilisasi ini yang perlu diperhatikan dari latihan kekuatan dan stabilisasi ini adalah porsi / takaran latihan dan bentuk latihan yang sesuai dan tepat.

v Latihan Daya Tahan

Kemampuan daya tahan adalah kemampuan yang paling jelas dimiliki oleh anak-anak. Pada usia anak-anak tingkat kesadaran akan kelalahan sangatlah kecil. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan sangat padat akan tetapi jarang (bahkan tidak pernah) mengeluh kelelahan.

Pelatihan pada kemampuan ini adalah memberikan perlakuan terhadap anak-anak untuk menyelesaikannya dalam waktu yang lama. Dalam latihan ini tingkat kejenuhan dan rasa malas cukup tinggi sehingga dituntut pelatih untuk mampu menciptakan variasi latihan yang banyak dengan menerapkan metode dan bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Bentuk latihannya lebih dominan permainan yang menuntut aktivitas setiap individu anak (tidak pasif) yang berlangsung cukup lama (waktu yang lama atau pengulangan yang cukup banyak). Untuk menarik perhatian dan minat bergerak maka penggunaan alat bantu yang tepat harus dimaksimalkan.



B. Manfaat aktifitas fisik yang teratur

Ada beberapa manfaat bagi anak besar yang aktif, seperti tubuh mereka dapat melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Berikut adalah beberapa manfaat yang anak-anak bisa dapatkan dari aktivitas fisik secara teratur.

Anak besar belajar untuk melatih ketika mereka memiliki kelas olahraga di sekolah mereka, ketika mereka berada di latihan sepak bola, atau ketika mereka terdaftar dalam kelas tari. Mereka juga latihan saat mereka bermain saat istirahat.

Ada beberapa keuntungan untuk anak-anak dari aktif secara fisik dan beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

l Mereka tumbuh memiliki otot dan tulang kuat

l Mereka memiliki tubuh lebih kurus karena olahraga membantu tubuh untuk menggunakan lemak

l Mereka memiliki kesempatan lebih kecil kelebihan berat badan

l Mereka mengurangi risiko pengembangan penyakit seperti diabetes tipe 2, yang umumnya dikenal sebagai juvenile diabetes

l Mereka akan menurunkan kemungkinan memiliki berkembang tekanan darah dan kolesterol masalah ketika mereka menjadi dewasa

l Latihan memberikan kontribusi terhadap pikiran dan tubuh secara keseluruhan pembangunan.

Selain berbagai manfaat kesehatan melakukan olahraga teratur, anak-anak yang tetap aktif secara fisik juga tidur lebih baik. Selain itu, mereka mampu menangani tantangan fisik dan emosional seperti berlari atau belajar untuk ujian jauh lebih baik.

Bahkan, orang tua perlu mendorong anak-anak mereka untuk ambil bagian dalam berbagai kegiatan sehingga mereka dapat mengembangkan dari segala sudut. Ketika anak-anak terlibat dalam aerobik, mereka secara otomatis belajar daya tahan. Selama latihan aerobik, anak denyut jantung lebih cepat dan mereka bernapas lebih keras. Jika dilakukan secara teratur, ia memiliki keuntungan jangka panjang dan memperkuat otot-otot jantung dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyediakan oksigen ke semua sel dan jaringan.

C. Aktifitas fisik mempengaruhi prestasi akademik

Penelitian mempelajari untuk melihat apakah satu episode senam ringan seperti berjalan memiliki keuntungan dan ia menemukan bahwa itu, sebenarnya, bermanfaat bagi fungsi kognitif. Sementara menguji kriteria, peneliti menyadari bahwa ada hasil positif yang terkait dengan aktivitas fisik, dan mengamati bahwa rentang perhatian pada anak-anak meningkat setelah latihan. Sebagian besar studi yang dilakukan memiliki anak kurang dari 10 tahun sebagai peserta.

Para peneliti mengamati bahwa ada setelah episode akut berjalan, anak-anak benar-benar dilakukan lebih baik pada tugas tertentu. Mereka menunjukkan hasil yang lebih akurat dan bahkan jika tugas itu sulit, mereka berkonsentrasi lebih lama. Hal ini menunjukkan efek perilaku, dan itu juga menemukan bahwa ada beberapa perubahan dalam potensi otak mereka. Ini diukur dengan menggunakan sinyal-sinyal listrik saraf.

Namun, bahkan tanpa laporan eksperimen orang dapat dengan mudah setuju bahwa ada manfaat besar dari kegiatan fisik di antara anak-anak. Mereka tumbuh lebih baik, mereka lebih kuat, meningkatkan nafsu makan mereka, dan juga aliran darah dalam tubuh meningkat selama aktivitas fisik mereka.

Aktivitas fisik membantu anak-anak tidur lebih baik dan normal, dan keseluruhan konsentrasi dan kekuatan otak meningkat sebagai hasilnya. Jadi, disarankan bahwa anak-anak harus bermain di luar lebih banyak dan juga menikmati latihan.

D. Tahap Permulaan dan Pembentukan

Pada tahap ini penekanan aktivitas pada pengembangan kemampuan dasar secara menyeluruh dan menyenangkan (FoUNdation) yang tentunya dengan intensitas latihan yang rendah melalui konsep bermain (games). Materi yang diberikan dapat berupa kemampuan keterampilan gerak dasar dan kemampuan fisik dasar.

Latihan kemampuan Keterampilan Gerak

Pelatihan kemampuan keterampilan banyak diperkenalkan pada gerak dasar seperti running, jumping, catching, throwing, batting, balancing, dan rolling yang dilakukan dengan teknik yang benar. Sehingga tercapai tujuan untuk memberikan pengalaman keterampilan yang lengkap dan dilakukan secara benar. Juga mengembangkan kelenturan, koordinasi dan keseimbangan. Dan, yang tidak kalah pentingnya menanamkan sikap dan sifat disiplin diri dan komit terhadap segala aturan dan tata tertib.

Sebagai dukungan pada tahap ini, pelatih harus dapat menciptakan alat bantu yang sesuai dan tepat sehingga hasilnya menjadi efektif, seperti memodifikasi bola agar tidak menjadi beban atau ketinggian basket yang direndahkan sehingga dapat melakukan gerakan teknik dengan benar. Selain itu, pelatih merancang program yang lebih bervariasi agar anak mempunyai kesempatan melakukan (partisipasi) secara maksimal dan memberi kesempatan untuk berkreasi dan berimajinasi dalam setiap gerakan yang dilakukan. Merancang regulasi permainan agar mudah dipahami serta menciptakan situasi permainan yang dapat menumbuhkan sifat inisiatif untuk saling bekerja sama.









Berikut model untuk latihan keterampilan gerak :

TAHAP PERKEMBANGANBENTUK LATIHANLATIHAN-LATIHAN

- Rolling

- Throwing

- Catching

- Kicking

- Dribbling

- Walking on the narrow lines

- Jumping on/off low objects Irama sederhana dan waktu reaksi

- Crawling / rolling

- Front somersault

- Dribbling - Ball Exercises

- Ball Exercises with partner

- Ball hits and throws

- Catching skills

- Rebounding ball catch

- Relays

- Scissors kick handstand

- backward roll

- Cartwheel

- Cartwheel against the wall

Permulaan Persiapan latihan untuk memahirkan keterampilan Keseimbangan sederhana Koordinasi mata dan tangan secara sederhana Orientasi ruang dan perasaan akan posisi tubuh / anggota badan Koordinasi mata dan tangan secara sederhana Latihan mempertinggi / meningkatkan keterampilan







DAFTAR PUSTAKA



http://shterateunsoed.blogspot.com/2009/06/latihan-kecepatan-speed-daya-tahan-dan.html



a textbook of motor development charles b. corbin (second edition)

Hakekat Belajar

Hakekat Belajar



A. Definisi Belajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.



Ciri-Ciri Umum Pendidikan, Beiajar, dan Perkembangan

Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan

1. Pelaku


Guru sebagai pe-laku mendidik dan siswa yang terdidik
Siswa yang ber-tindak belajar atau pebelajar
Siswa yang meng-alami perubahan

2. Tujuan
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh
Memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup
Memperoleh per­ubahan mental

3. Proses
Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar
Internal pada diri pebelajar
Internal pada diri pebelajar

4. Tempat
Lembaga pen-didikan sekolah dan luar sekolah
Sembarang tem-pat


Sembarang tempat



5.Lama waktu
Sepanjang hayat dan sesuai jenjang lembaga
Sepanjang hayat


Sepanjang hayat



6.Syarat terjadi
Guru memiliki ke-wibawaan pen-didikan r,
Motivasi belajar kuat

X
Kemauan mengubah diri



7.Ukuran Keber-hasilan
Terbentuk pribadi terpelajar
Dapat meme-cahkan masalah
Terjadinya per­ubahan positif

8. Faedah
Bagi masyarakat menc erdaskan kehidupan baiigsa
Bagi pebelajar mempertinggi martabat pribadi
Bagi pebelajar mem-perbaiki kemajuan mental

9. Hasil
Pribadi sebagai pembangun yang produktif dan kreatif
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring
Kemajuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik




Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan? Oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar.

a. Belajar Menurut Pandangan Skinner

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

(i) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar,

(ii) respons si pebelajar, dan

(iii) konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuatterjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberihadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.



Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Pandangan Skinner ini terkenal dengan nama teori Skinner. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (i) pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan (ii) penggunaan penguatan. Sebagai ilustrasi, apakah guru akan mcminta respons ranah kognitif atau afektif. Jika yang akan dicapai adalah sekadar "menyebut ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta," tentu saja siswa hanya dilatih menghafal.

Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan sebagai berikut:

(1) Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positf atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.

(2) Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.

(3) Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.

(4) Kecmpat, membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjulnya (Davidoff, 1988: 199-211; Gredler, 1991: 154-166; Sumadi Suryabrata, 1991; Hilgard dan Bower, 1966: 114-131; Woolfolk & McCune-Nicolish, 1984: 170-179).



b. Belajar Menurut Gagne

Mcnurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki . kclcrampilan, penqetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabrumenuilitas tcrsebut adalah dan i) stimulasi yang berasal dan lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah sepcrangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Scbagai ilustrasi, siswa kelas tiga SMP mempelajari nilai luhur Pancasila. Mereka membaca berita di surat kabar tentang bencana alam gcmpa bumi di Flores dan banjir di beberapa provinsi di Jawa. Mcrcka bersama-sama mengumpulkan bantuan bencana alam dari orang tua siswa SMP. Mereka mampu mengumpulkan 4 kuintal beras, 100 potong pakaian, dan uang sebesar Rp 5.000.000,00. Hasil bantuan tcrsebut kcmudian mereka serahkan ke Palang Merah Indonesia yang mcngkoordinasi bantuan di kota setempat. Perilaku siswa mengumpulkan sumbangan tcrsebut merupakan hasil belajar nilai luhur Pancasila. Hal ini merupakan dampak pengiring.

Mcnurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi ckstcrnal, kondisi internal, dan hasil belajar.

Gagne berpendapat bahwa dalam belajar terdiri dari tiga tahap yang meliputi sembilan fase. Tahapan itu sebagai berikut: (i) persiapan untuk belajar, (ii) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi), dan (iii) alih belajar. Pada tahap persiapan dilakukan Undakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan kembali informasi. Pada tahap pemerolehan dan performansi digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan pemberlakuan secara umum. Adanya tahap dan fase belajar tersebut mempermudah guru untuk melakukan pembelajaran.

Dalam rangka pembelajaran maka guru dapat menyusun acara pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase-fase belajar. Pola hubungan antara fase belajar dengan acara-acara pembelajaran tersebut dapat dilukiskan dalam Tabel 1.2 berikut. Pola pem­belajaran tersebut dapat digunakan untuk pedoman pelaksanaan kegiatan belajar di kelas. Sudan barang tentu guru masih harus menyesuaikan dengan bidang studi dan kondisi kelas yang sebenamya. Guru dapat memodifikasi seperlunya.



c. Belajar Menurut Pandangan Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

Perkembangan intelektual melalui lahap-tahap berikut. (i) sensori motor (0;0-2;0 tahun) (ii) pra-opcrasional (2;0-7;0 tahun), (iii) koiikrct (7;0-I1;U lahun), dan (iv) operasi formal (11;0-ke atas)

Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, pcnciuman, pendengaran, perabaan dan menggerak-gerakannya. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. la telah mampu menggunakan simbol, huliasu. konsep scderliana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap operasi konkret anak dapat mengem-bangkiin pikiran logis. la dapat mengikuti penalaran logis, walau kadaiig-kadang memecahkan masalah secara "trial and error". Pada luhap opcrasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dcwasa.

Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun scndiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bcntuk, yaitu pcngclulman fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan social

Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dcngan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.

Menurut Piagiet, pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut.

(1) Langkah satu: Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa pertanyaan, seperti berikut:

(a) Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi?

(b) Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok.

(c) Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi secara fisik sebelum secara verbal)

(2) Langkah dua: Memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut. Hal ini dibimbing dengan pertanyaan seperti:

(a) Apakah aktivitas itu mcmbcri kesempatan untuk melaksanakan metode eksperimen?

(b) Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa?

(c) Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara belajar dalam mengikuti kegiatan di kelas?

(d) Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?

(e) Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?

(f) Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari?



(3) Langkah tiga: Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. Bimbingan pertanyaan berupa:

(a) Pertanyaan lanjut yang memancing berpikir seperti "bagaimana jika"?

(b) Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan?



(4) Langkah empat: Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan, dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan seperti:

(a) Segi kegiatan apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar?

(b) Segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya?

(c) Apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?

(d) Apakah kegiatan itu dapatdijadikan modal untukpembelajaran lebih lunjut?



Secara singkat, Piaget menyarankan agar dalam pembelajaran guru memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi (Bell Brcdlcr, 1991: 301-357; Davidoff, 1988: 371-JIM; Daliar. 19X8: 179-201; Winkel, 1991: 38-39; Woolfolk & McCune Nicolich, 1984: 46-47)



d. Belajar Menurut Rogers

Rogers mcnyayangkan praktek pcndidikan di sekolah tahun 1960 an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.

Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan dan pembelaiaran tersebut sebagai berikut:

(1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.

(2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.

(3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan idc baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

(4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus- menerus.

(5) Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.

(6) Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat member peluang untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri. Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder.

(7) Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.



Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembe­lajaran yang perlu dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran itu meliputi hal berikut:

(1) Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur.

(2) Guru dan siswa membuat kontrak belajar,

(3) Guru menggunakan metode inkuiri, atau belajar menemukan (discovery learning). (4) Guru menggunakan metode simulasi

(5) Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain.

(6) Guru bertindak sebagai fasilitator belajar.

(7) Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas (Snelbecker, 1974: 483-494; Skager, 1984: 33; Bergan dan Dunn, 1976: 122-128).



Keempat pandangan tentang belajar tersebut merupakan bagian kecil dari pandangan yang ada. Untuk kepentingan pembelajaran, para guru dan calon guru masih harus mempelajari sendiri dari psikologi belajar. Di samping itu, para guru masih perlu memilih teori yang relevan bagi bidang studi asuhannya. Guru juga perlu memodifikasi secara praktis sesuai dengan kondisi perilaku siswa belajar.



B. Prinsip-Prinsip Belajar

Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajamya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajamya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

a. Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.

Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Berliner, 1984: 372).

"Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to initiate and direct behavior" demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986:3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sarnpai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu ftiktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.

Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dlanggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan nktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang bclajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa incnanamkan sikap positif pada din siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant condition!ng-nya. (Hal Ini dibicarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).

Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya Ncndiri, dapat juga bersifat ekstemal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan alas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pcndorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh. seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pclajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipclajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang diiakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.

Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat ekstemal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat internal maupun ekstemal, walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang disebut’’transformasi motif’’. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menye-nangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.



b. Keaktifan

Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916, dalam Davies, 1937:31).

Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar mcnyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, I '> 84:267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dun mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, incncmukan, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak mampu mengidentifikasi, niorumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, incnafsirkan, dan menarik kesimpulan. ,

Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlu-kaii adanya latihan-latihan. Me Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan "manusia belajar yung aktif selalu ingin tahu, sosial" (Me Keachie, 1976:230 dari Uredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).

Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkah keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik-yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keicrampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam mnnecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis ymig lain.



c. Keterlibatan Langsung Berpengalaman

Di muka telah dibicarakan bahwa belajar haruslah dilakukan wndiri oleh siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa ililimparikan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan (K-iigalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya nirngcmukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secant langsung tetapi ia harus incii)'hayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab Irihadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia te'rlibat secara langsung dalam pembuatannya (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar urang berccrita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).

Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan "learning by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami mclalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memccahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pcmbimbing dan fasilitator.

Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan flsik scmata, namun lebih dan itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan. ,

d. Pengulangan '''?•" :

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Mcnurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.

Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukum belajamya "law of exercise", ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah "latihan menjadikan sempuma" (Thorndike, 1931b:20, dan Gredler, Margaret E Bell, terjemahan Munandir, 1991: 51). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam bclajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning rtspons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus, tetapi juga oleh Nlimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mcndcngar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu lalu lintas Ix-rwama merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dun belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku Him respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, nu-ngulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, Idapi dapat juga oleh stimulus penyerta.

Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan kciiga pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan nirmbentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga Icon tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua hcniuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar masih tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984: 259).



e. Tantangan

Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan [bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu Injuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu Lincmpelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ll nkan niasuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dlhadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mcngatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mcmpelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mcncmukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan mcnycbabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah dlolali sccara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kuiang mcnarik bagi siswa. ,

Pcnggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberi-kan lantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan mcnimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.



f. Balikan dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mcndapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984:272).



g. Perbedaan Individual

Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, fcn-Kidian, dan sifat-sifatnya.

Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa -sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Pernbelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Di samping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa schingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akun merusakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sckundcr dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan guru tcrimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.

Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kcgiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran bcrlangsung. Namun demikian, perlu disadari bahwa implementasi prinsip priasip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. Agar Anda mendapat kejelasan tentang implikasi prinsip-prinsip bclajar bagi siswa dan guru, uraian berikut ini dapat membantu Anda memperolehnya.

C. TIPE-TIPE BELAJAR

a. Tipe Visual.

Mereka dengan tipe ini lebih menyukai belajar ataupun menerima informasi dengan melihat atau membaca. Bila berkomentar demikian; Hal itu bisa saya lihat sekarang. Saya ingin mengetahui gambaran detailnya. Kelihatannya perbuatan orang itu benar. Saya bisa ciri-ciri yang lain; (1) Mudah mengingat apa yang dilihat (2) Lebih senang membaca sendiri (3) Dapat membaca cepat (4) Dapat membayangkan kata-kata (5) Tidak terganggu oleh suara (6) Berpenampilan rapi (7) Menyukai mendemontrasikan daripada menjelaskan (8) Kebiasaan mencoret-coret (9) Menyukai seni yang tidak berhubungan dengan musik.



b. Tipe Auditorik.

Mereka cenderung belajar atau menerima informasi dengan mendengarkan atau secara lisan. Biasanya perkataannya; Perkataan orang itu kedengarannya benar. Saya dengar apa yang kamu bilang. Dengarkan saya dulu. Saya dengar anda tidak senang atas perlakuan orang itu. Adapun ciri-ciri yang lain adalah; (1) Lebih senang belajar dengan cara mendengarkan (2) Mudah mengingat yang diterangkan daripada melihat (3) Membaca dengan bersuara (4) Mudah terganggu oleh suara berisik (5) Biasanya pembicara ulung (6) Senang berbicara dan berdiskusi (7) Lebih menyukai musik.



c. Tipe Kinestetik.

Lebih menyukai belajar atau menerima informasi melalui gerakan atau sentuhan. Biasanya kata-katanya; Rasanya hal itu ada benarnya. Saya kesulitan menangani masalah itu. Coba beri saya contoh konkritnya. Saya masih belum menemukan kepastian. Sepertinya kata-kata orang itu bisa saya pegang. Adapun ciri-ciri yang lain adalah: (1) Tidak bisa diam saat belajar (2) Tidak dapat duduk diam dalam jangka waktu yang lama (3) Mendekati orang yang diajak berbicara (4) Menggunakan jari sebagai petunjuk (5) Suka menyentuh orang saat bicara (6) Sulit mengingat tempat bila belum pernah ke sana (7) Menyukai bahasa isyarat (8) Menyukai seni tari.







Daftar Pustaka



Gredler, Bell, Margareth E. 1991. Belajar dan Membelajarkan (terjemahan Munandir) . Jakarta: Rajawali Pers.

Dimyati, Drs. dan Mudjiono, Drs. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT ASDI MAHASATYA

Kamis, 13 Mei 2010

HAKEKAT BELAJAR


2.1 Definisi Belajar
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.

Ciri-Ciri Umum Pendidikan, Beiajar, dan Perkembangan
Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan
1. Pelaku

Guru sebagai pe-laku mendidik dan siswa yang terdidik
Siswa yang ber-tindak belajar atau pebelajar
Siswa yang meng-alami perubahan
2. Tujuan
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh
Memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup
Memperoleh per­ubahan mental
3. Proses
Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar
Internal pada diri pebelajar
Internal pada diri pebelajar
4. Tempat
Lembaga pen-didikan sekolah dan luar sekolah
Sembarang tem-pat

Sembarang tempat

5.Lama waktu
Sepanjang hayat dan sesuai jenjang lembaga
Sepanjang hayat

Sepanjang hayat

6.Syarat terjadi
Guru memiliki ke-wibawaan pen-didikan r,
Motivasi belajar kuat
X
Kemauan mengubah diri

7.Ukuran Keber-hasilan
Terbentuk pribadi terpelajar
Dapat meme-cahkan masalah
Terjadinya per­ubahan positif
8. Faedah
Bagi masyarakat menc erdaskan kehidupan baiigsa
Bagi pebelajar mempertinggi martabat pribadi
Bagi pebelajar mem-perbaiki kemajuan mental
9. Hasil
Pribadi sebagai pembangun yang produktif dan kreatif
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring
Kemajuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik

Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan? Oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar.
a. Belajar Menurut Pandangan Skinner
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:
(i) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar,
(ii) respons si pebelajar, dan
(iii) konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuatterjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberihadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.

Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Pandangan Skinner ini terkenal dengan nama teori Skinner. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (i) pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan (ii) penggunaan penguatan. Sebagai ilustrasi, apakah guru akan mcminta respons ranah kognitif atau afektif. Jika yang akan dicapai adalah sekadar "menyebut ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta," tentu saja siswa hanya dilatih menghafal.
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan sebagai berikut:
(1) Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positf atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.
(2) Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
(3) Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
(4) Kecmpat, membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjulnya (Davidoff, 1988: 199-211; Gredler, 1991: 154-166; Sumadi Suryabrata, 1991; Hilgard dan Bower, 1966: 114-131; Woolfolk & McCune-Nicolish, 1984: 170-179).

b. Belajar Menurut Gagne
Mcnurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki . kclcrampilan, penqetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabrumenuilitas tcrsebut adalah dan i) stimulasi yang berasal dan lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah sepcrangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Scbagai ilustrasi, siswa kelas tiga SMP mempelajari nilai luhur Pancasila. Mereka membaca berita di surat kabar tentang bencana alam gcmpa bumi di Flores dan banjir di beberapa provinsi di Jawa. Mcrcka bersama-sama mengumpulkan bantuan bencana alam dari orang tua siswa SMP. Mereka mampu mengumpulkan 4 kuintal beras, 100 potong pakaian, dan uang sebesar Rp 5.000.000,00. Hasil bantuan tcrsebut kcmudian mereka serahkan ke Palang Merah Indonesia yang mcngkoordinasi bantuan di kota setempat. Perilaku siswa mengumpulkan sumbangan tcrsebut merupakan hasil belajar nilai luhur Pancasila. Hal ini merupakan dampak pengiring.
Mcnurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi ckstcrnal, kondisi internal, dan hasil belajar.
Gagne berpendapat bahwa dalam belajar terdiri dari tiga tahap yang meliputi sembilan fase. Tahapan itu sebagai berikut: (i) persiapan untuk belajar, (ii) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi), dan (iii) alih belajar. Pada tahap persiapan dilakukan Undakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan kembali informasi. Pada tahap pemerolehan dan performansi digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan pemberlakuan secara umum. Adanya tahap dan fase belajar tersebut mempermudah guru untuk melakukan pembelajaran.
Dalam rangka pembelajaran maka guru dapat menyusun acara pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase-fase belajar. Pola hubungan antara fase belajar dengan acara-acara pembelajaran tersebut dapat dilukiskan dalam Tabel 1.2 berikut. Pola pem­belajaran tersebut dapat digunakan untuk pedoman pelaksanaan kegiatan belajar di kelas. Sudan barang tentu guru masih harus menyesuaikan dengan bidang studi dan kondisi kelas yang sebenamya. Guru dapat memodifikasi seperlunya.

c. Belajar Menurut Pandangan Piaget
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
Perkembangan intelektual melalui lahap-tahap berikut. (i) sensori motor (0;0-2;0 tahun) (ii) pra-opcrasional (2;0-7;0 tahun), (iii) koiikrct (7;0-I1;U lahun), dan (iv) operasi formal (11;0-ke atas)
Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, pcnciuman, pendengaran, perabaan dan menggerak-gerakannya. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. la telah mampu menggunakan simbol, huliasu. konsep scderliana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap operasi konkret anak dapat mengem-bangkiin pikiran logis. la dapat mengikuti penalaran logis, walau kadaiig-kadang memecahkan masalah secara "trial and error". Pada luhap opcrasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dcwasa.
Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun scndiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bcntuk, yaitu pcngclulman fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan social
Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dcngan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.
Menurut Piagiet, pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut.
(1) Langkah satu: Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa pertanyaan, seperti berikut:
(a) Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi?
(b) Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok.
(c) Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi secara fisik sebelum secara verbal)
(2) Langkah dua: Memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut. Hal ini dibimbing dengan pertanyaan seperti:
(a) Apakah aktivitas itu mcmbcri kesempatan untuk melaksanakan metode eksperimen?
(b) Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa?
(c) Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara belajar dalam mengikuti kegiatan di kelas?
(d) Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?
(e) Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?
(f) Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari?

(3) Langkah tiga: Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. Bimbingan pertanyaan berupa:
(a) Pertanyaan lanjut yang memancing berpikir seperti "bagaimana jika"?
(b) Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan?

(4) Langkah empat: Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan, dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan seperti:
(a) Segi kegiatan apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar?
(b) Segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya?
(c) Apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?
(d) Apakah kegiatan itu dapatdijadikan modal untukpembelajaran lebih lunjut?

Secara singkat, Piaget menyarankan agar dalam pembelajaran guru memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi (Bell Brcdlcr, 1991: 301-357; Davidoff, 1988: 371-JIM; Daliar. 19X8: 179-201; Winkel, 1991: 38-39; Woolfolk & McCune Nicolich, 1984: 46-47)

d. Belajar Menurut Rogers
Rogers mcnyayangkan praktek pcndidikan di sekolah tahun 1960 an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan dan pembelaiaran tersebut sebagai berikut:
(1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
(2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
(3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan idc baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
(4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus- menerus.
(5) Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
(6) Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat member peluang untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri. Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder.
(7) Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.

Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembe­lajaran yang perlu dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran itu meliputi hal berikut:
(1) Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur.
(2) Guru dan siswa membuat kontrak belajar,
(3) Guru menggunakan metode inkuiri, atau belajar menemukan (discovery learning). (4) Guru menggunakan metode simulasi
(5) Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain.
(6) Guru bertindak sebagai fasilitator belajar.
(7) Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas (Snelbecker, 1974: 483-494; Skager, 1984: 33; Bergan dan Dunn, 1976: 122-128).

Keempat pandangan tentang belajar tersebut merupakan bagian kecil dari pandangan yang ada. Untuk kepentingan pembelajaran, para guru dan calon guru masih harus mempelajari sendiri dari psikologi belajar. Di samping itu, para guru masih perlu memilih teori yang relevan bagi bidang studi asuhannya. Guru juga perlu memodifikasi secara praktis sesuai dengan kondisi perilaku siswa belajar.

2.2 Prinsip-Prinsip Belajar
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajamya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajamya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
a. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Berliner, 1984: 372).
"Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to initiate and direct behavior" demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986:3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sarnpai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu ftiktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dlanggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan nktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang bclajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa incnanamkan sikap positif pada din siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant condition!ng-nya. (Hal Ini dibicarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya Ncndiri, dapat juga bersifat ekstemal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan alas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pcndorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh. seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pclajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipclajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang diiakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat ekstemal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat internal maupun ekstemal, walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang disebut’’transformasi motif’’. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menye-nangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.

b. Keaktifan
Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916, dalam Davies, 1937:31).
Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar mcnyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, I '> 84:267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dun mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, incncmukan, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak mampu mengidentifikasi, niorumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, incnafsirkan, dan menarik kesimpulan. ,
Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlu-kaii adanya latihan-latihan. Me Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan "manusia belajar yung aktif selalu ingin tahu, sosial" (Me Keachie, 1976:230 dari Uredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkah keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik-yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keicrampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam mnnecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis ymig lain.

c. Keterlibatan Langsung Berpengalaman
Di muka telah dibicarakan bahwa belajar haruslah dilakukan wndiri oleh siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa ililimparikan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan (K-iigalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya nirngcmukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secant langsung tetapi ia harus incii)'hayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab Irihadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia te'rlibat secara langsung dalam pembuatannya (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar urang berccrita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan "learning by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami mclalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memccahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pcmbimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan flsik scmata, namun lebih dan itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan. ,
d. Pengulangan '''?•" :
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Mcnurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukum belajamya "law of exercise", ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah "latihan menjadikan sempuma" (Thorndike, 1931b:20, dan Gredler, Margaret E Bell, terjemahan Munandir, 1991: 51). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam bclajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning rtspons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus, tetapi juga oleh Nlimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mcndcngar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu lalu lintas Ix-rwama merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dun belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku Him respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, nu-ngulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, Idapi dapat juga oleh stimulus penyerta.
Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan kciiga pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan nirmbentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga Icon tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua hcniuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar masih tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984: 259).

e. Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan [bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu Injuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu Lincmpelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ll nkan niasuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dlhadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mcngatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mcmpelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mcncmukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan mcnycbabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah dlolali sccara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kuiang mcnarik bagi siswa. ,
Pcnggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberi-kan lantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan mcnimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.

f. Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mcndapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984:272).

g. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, fcn-Kidian, dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa -sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pernbelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Di samping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa schingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akun merusakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sckundcr dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan guru tcrimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kcgiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran bcrlangsung. Namun demikian, perlu disadari bahwa implementasi prinsip priasip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. Agar Anda mendapat kejelasan tentang implikasi prinsip-prinsip bclajar bagi siswa dan guru, uraian berikut ini dapat membantu Anda memperolehnya.
2.3 TIPE-TIPE BELAJAR
a. Tipe Visual.
Mereka dengan tipe ini lebih menyukai belajar ataupun menerima informasi dengan melihat atau membaca. Bila berkomentar demikian; Hal itu bisa saya lihat sekarang. Saya ingin mengetahui gambaran detailnya. Kelihatannya perbuatan orang itu benar. Saya bisa ciri-ciri yang lain; (1) Mudah mengingat apa yang dilihat (2) Lebih senang membaca sendiri (3) Dapat membaca cepat (4) Dapat membayangkan kata-kata (5) Tidak terganggu oleh suara (6) Berpenampilan rapi (7) Menyukai mendemontrasikan daripada menjelaskan (8) Kebiasaan mencoret-coret (9) Menyukai seni yang tidak berhubungan dengan musik.

b. Tipe Auditorik.
Mereka cenderung belajar atau menerima informasi dengan mendengarkan atau secara lisan. Biasanya perkataannya; Perkataan orang itu kedengarannya benar. Saya dengar apa yang kamu bilang. Dengarkan saya dulu. Saya dengar anda tidak senang atas perlakuan orang itu. Adapun ciri-ciri yang lain adalah; (1) Lebih senang belajar dengan cara mendengarkan (2) Mudah mengingat yang diterangkan daripada melihat (3) Membaca dengan bersuara (4) Mudah terganggu oleh suara berisik (5) Biasanya pembicara ulung (6) Senang berbicara dan berdiskusi (7) Lebih menyukai musik.

c. Tipe Kinestetik.
Lebih menyukai belajar atau menerima informasi melalui gerakan atau sentuhan. Biasanya kata-katanya; Rasanya hal itu ada benarnya. Saya kesulitan menangani masalah itu. Coba beri saya contoh konkritnya. Saya masih belum menemukan kepastian. Sepertinya kata-kata orang itu bisa saya pegang. Adapun ciri-ciri yang lain adalah: (1) Tidak bisa diam saat belajar (2) Tidak dapat duduk diam dalam jangka waktu yang lama (3) Mendekati orang yang diajak berbicara (4) Menggunakan jari sebagai petunjuk (5) Suka menyentuh orang saat bicara (6) Sulit mengingat tempat bila belum pernah ke sana (7) Menyukai bahasa isyarat (8) Menyukai seni tari.


Daftar Pustaka

Gredler, Bell, Margareth E. 1991. Belajar dan Membelajarkan (terjemahan Munandir) . Jakarta: Rajawali Pers.
Dimyati, Drs. dan Mudjiono, Drs. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT ASDI MAHASATYA
PERATURAN PERLOMBAAN ATLETIK



Perorangan putra dan putri.
Nomor : lari 60 m, lompat jauh, lempar lembing dan tolak peluru. Setiap peserta maksimal
mengikuti 2 (dua) nomor yang dilombakan dengan ketentuan wajib untuk nomor lari
dan salah satu nomor lapangan.
 
Peraturan Umum

1.       Panitia Pelaksana
Perlombaan atletik dilaksanakan oleh Pengurus Provinsi yang bertanggung jawab terhadap PB. PASI Hakim, wasit dan juri yang bertugas telah mendapat rekomendasi dari Pengurus Besar PASI.Keputusan hakim adalah mutlak dan bersifat independent.
 
2.       Peraturan
Peraturan perlombaan yang akan digunakan adalah peraturan perlombaan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) yang diadopsi dari peraturan perlombaan internasional sesuain dengan IAAF Competition Rules 2008/209. Semua peserta dianggap telah memahami dan mengerti isi dari peraturan tersebut.
 
3.       Pakaian dan Sepatu
a.   Pakaian perlombaan/seragam harus sesuai  dengan ketentuan yang berlaku dan merupakan seragam resmi  dari daerah yang bersangkutan.
b.   Peserta diwajibkan memakai pakaian yang bersih dan sopan, dengan potongan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu/tidak menimbulkan keberatan-keberatan. Pakaian perlombaan harus dibuat dari bahan yang tidak tembus pandang/tidak transparan, sekalipun dalam keadaan basah.
c.   Pakaian dan tas yang menggunakan tanda-tanda reklame yang tidak sesuai dengan ketentuan IAAF, tidak dibenarkan/dibawa ke dalam arena perlombaan.
d.   Diharapkan seluruh peserta menggunakan sepatu olahraga, bagi yang menggunakan sepatu spikes, panjang paku spikes tidak boleh lebih dari 9 mm.
 
Peraturan Khusus

1.   Peserta
      a. Perorangan putra dan putri
      b. Bukan peraih medali Popnas/Kejuaraan
      c. Bukan peserta kejuaraan tingkat Internasional
      d. Bukan peserta binaan PPLP
      e. Peserta kelahiran tahun 1995
 
2.       Peralatan
Semua peralatan yang akan digunakan adalah sesuai dengan standar PASI yang diadopsi dari IAAF technical handbook.



3.       Nomor-nomor perlombaan atletik merupakan nomor lepas, dibagi dalam :
 
a.
Nomor Lintasan
:
Lari 60 m
b.
Nomor Lapangan
:
 
 
·     Lompat Jauh
 
 
 
·     Lempar Lembing
 
- Putra        : 700 Gr
 
 
 
- Putri         : 600 Gr
 
·     Tolak Peluru
 
- Putra        : 4 Kg
 
 
 
- Putri         : 3 Kg
           
Setiap peserta wajib mengikuti nomor lari 60 m, dan salah satu nomor lapangan sebagai nomor pilihan.
 
4.       Penentuan Lintasan dan Nomor Lapangan
a.   Penentuan Lintasan :
1)   Penentuan Lintasan dan urutan giliran peserta perlombaan dicantumkan dalam buku
program yang ditentukan dengan undian oleh panitia pelaksana, sesuai dengan ketentuan  pasal 141 peraturan IAAF.
2)   Penentuan urutan lintasan nomor lari untuk babak selanjutnya dilaksanakan oleh
panitia pelaksana.
 
b.  Penentuan Nomor Lapangan
1)   Setiap peserta berhak melakukan lompatan/tolakan percobaan sebanyak dua kali yang pelaksanaannya akan diatur secara bergiliran oleh panitia pelaksana.
2)   Dalam nomor lompat jauh, tolak peluru dan lempar lembing setiap siswa berhak melompat/menolak 5 kali, 3 kali babak penyisihan dilanjutkan 3 kali babak final, dan pemenangnya akan ditentukan dari hasil yang terjauh.
 
5.       Pemanggilan Peserta.
a.       Pemanggilan peserta untuk memasuki arena perlombaan akan dilakukan dari tempat roll call
b.       Pembagian waktu pemanggilan peserta untuk setiap nomor lomba adalah sebagai berikut :
-          Untuk seluruh nomor lintasan, pemanggilan pertama peserta dilaksanakan 30 menit sebelum nomor perlombaan ini dimulai dan pemanggilan terakhir 20 menit sebelum dimulai. Selanjutnya 10 menit sebelum perlombaan dimulai para peserta masuk ke arena perlombaan.
-          Untuk nomor lompat dan lempar, pemanggilan pertama dilaksanakan 45 menit sebelum perlombaan dimulai dan pemanggilan terakhir 25 menit sebelum perlombaan. Selanjutnya peserta di bawa masuk ke arena perlombaan 15 menit sebelum perlombaan.
 
6.       Roll Call untuk Peserta
a.   Tempat roll call berada di sekitar Stadion Atletik. Bila nama peserta dipanggil oleh panitia pelaksana lomba, mereka diharapkan menunjukkan kartu identitas peserta, nomor dada, sepatu perlombaan /spikes, tas lapangan kepada panitia/petugas roll call.
b.   Nomor dada, tiap-tiap peserta diharuskan menggunakan 2 (dua) buah nomor dada yang masing-masing satu pasang dipakai di dada dan di punggung. Nomor tidak diperkenankan di lipat-lipat.
c.   Para Official, pelatih dan pendamping tidak diperkenankan mendampingi pesertanya masuk ke dalam lapangan/lintasan.
Keterangan :
 
-          Panggilan I peserta/pelatih diharuskan membubuhkan tanda (V) di depan nama
peserta sebagai tanda hadir.
-          Panggilan II peserta diharuskan masuk ruangan roll call
-          Mereka diharuskan hadir tepat waktu sesuai jadwal.
 
7.       Cara Memperkenalkan Peserta di Lapangan
Bila atlet disebutkan namanya oleh penyiar (Announcer) diharapkan untuk maju selangkah sambil melambaikan  tangannya kepada penonton.
 
8.       Protes
a.    Protes yang menyangkut keabsahan peserta harus diselesaikan sebelum perlombaan dimulai dan diselesaikan melalui panitia keabsahan peserta.
b.   Protes menyangkut suatu hasil perlombaan dapat diajukan dalam waktu 30 menit setelah suatu hasil perlombaan dapat diumumkan secara resmi oleh panitia pelaksana lomba.
c.   Setiap protes tingkat pertama dapat disampaikan secara lisan oleh peserta yang bersangkutan atas nama peserta tersebut kepada wasit. Kemudian wasit akan mempertimbangkan dengan disertai bukti-bukti  yang cukup dan diangap perlu untuk mengambil keputusan atau akan meneruskannya kepada panitia hakim.
d.   Apabila keputusan wasit atas protes yang baru diajukan ternyata tidak diterima oleh pihak yang mengajukan protes, si pengaju protes dapat naik banding kepada dewan hakim.
e.   Besarnya uang protes ditetapkan 100$ US (Seratus Dollar) atau sesuai dengan jumlah itu.
 
TEORI BELAJAR KOGNITIF

2.1 Pengertian Teori Belajar Kognitif
Teori-teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Dengan kemampuan kognitif ini maka anak dipandang sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia.
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya. Teori ini juga menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara terpisah akan menghilangkan makna belajar. Teori ini juga berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain. Belajar adalah aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar di sini antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima (faktor eksternal) dan menyesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah terbentuk di dalam pikiran seseorang (background knowledge) berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya (faktor internal). Teori kognitif lebih menekankan pada struktur internal pembelajar dan lebih memberi perhatian pada bagaimana seseorang menerima, menyimpan, dan mengingat kembali informasi dari perbendaharaan ingatan. Ada beberapa kelompok penganut teori kognitif, namun fokus dari penganut teori ini sama yaitu pada soal bekerjanya pikiran manusia.
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk representatif yang mewakili obyek-obyek itu direpresentasikan atau dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali ke negerinya sendiri. Tempat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat dia bawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Pada waktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.

2.2 Teori Belajar Kognitif menurut Piaget, Bruner, Ausubel
2.2.1 Jean Piaget
Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif sebagai Skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari sekema-skema. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Perkembangan skemata berlangsung terus menerus melalui adaptasi dengan lingkungannya. Skemata tersebut membentuk suatu pola penalaran tertentu dalam pikiran anak. Makin baik kualitas skema ini, makin baik pulalah pola penalaran anak tersebut.
Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru dilakukan dengan dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam schemata yang telah terbentuk. Sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung. Hal ini terjadi karena stimulus baru tidak dapat diasimilasi, karena tidak ada skema yang sesuai dengan yang telah dimilikinya. Pada proses akomodasi skema yang ada memodifikasi diri atau menciptakan skema baru sehingga sesuai stimulus baru itu. Setelah itu asimilasi berlangsung kembali. Dengan demikian pada proses asimilasi tidak menghasilkan perubahan schemata, melainkan hanya menunjang pertumbuhan schemata secara kuantitas. Sedangkan pada akomodasi menghasilkan perubahan schemata secara kualitas.
Dalam struktur kognitif setiap individu harus ada keseimbangan antara asimilasi dengan akomodasi. Keseimbangan ini dimaksudkan agar dapat mendeteksi persamaan dan perbedaan yang terdapat pada stimulus-stimulus yang dihadapi. Perkembangan kognitif pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang telah dimiliki ke kesaimbangan baru yang diperoleh.
Berdasarkan hasil penelitiannya yang dilakukan di Swiss pada tahun 1950-an, Piaget mengemukakan bahwa ada empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu yaitu:
a.Tahap Sensori Motor (Sensory Motoric Stage)
Tahap ini berlangsung mulai dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun. Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang dari pandangannya, asal perpindahannya terlihat. Akhir dari tahap ini, ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya mulai matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam simbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan.
b.Tahap Pra Operasi (Pre Operasional Stage)
Tahap ini berlangsung dari sekitar umur 2 tahun sampai 7 tahun. Tahap pra operasi merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Istilah operasi yang digunakan Piaget disini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek (classifying), menata letak benda-benda menurut urutan tertentu (seriation), dan membilang (counting). Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakan berbeda pula.
Contoh:
Dua utas tali sama panjang diletakkan di atas meja, kemudian rentangannya diubah. Hasilnya, anak-anak akan mengatakan bahwa kedua tali tersebut menjadi berbeda panjangnya.
a c
diubah menjadi

b d
diubah menjadi

Panjang tali a sama dengan panjang tali b, tetapi panjang tali c tidak sama dengan tali d.
c.Tahap Operasi Konkrit (Concrete Operational Stage)
Tahap ini berlangsung dari sekitar umur 7 tahun sampai 11 tahun. Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan (kekekalan banyak saat anak berusia 6-7 tahun, kekekalan materi saat anak berusia 7-8 tahun, kekekalan panjang saat anak berusia 7-8 tahun, kekekalan luas saat anak berusia 8-9 tahun, kekekalan berat saat anak berusia 9-10 tahun, kekekalan volume saat anak berusia 11-12 tahun), kemampuan untuk mengklasifikasi dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berpikir reversible.
Kemampuan mengurutkan objek (serasi) yang dipahami oleh anak pada tahap ini berkembang sesuai dengan pemahaman konsep kekekalan. Kemampuan mengurutkan objek berdasarkan panjang dipahami pada sekitar 7 tahun, mengurutkan objek yang besarnya sama tetapi beratnya berlainan dicapai pada umur sekitar 9 tahun, dan mengurutkan benda menurut volumnya dicapainya pada sekitar 12 tahun.
Pada tahap ini anak memahami pula konsep ekuivalensi dan klasifikasi. Piaget membuktikannya dengan eksperiman sebagai berikut:
Seorang anak diberi 20 bola kayu, 15 buah diantaranya berwarna merah. Apabila ditanyakan manakah yang lebih banyak, bola kayu atau bola berwarna merah?
Anak pada tahap pra operasional menjawab bahwa bola merah lebih banyak, sedangkan anak pada tahap operasi konkrit menjawab bahwa bola kayu lebih banyak dari pada bola berwarna merah.
Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa anak pada tahap operasi konkrit telah mampu memperhatikan sekaligus dua macam kelompok yang berbeda. Ia telah dapat mengelompokkan benda-benda yang memiliki beberapa karakteristik ke dalam himpunan dan himpunan bagian dengan karakteristik khusus, dan dapat melihat beberapa karakteristik suatu benda secara serentak.
Anak pada tahap ini baru mamapu mengikat definisi yang telah ada dan mengungkapkannya kembali, akan tetapi belum mampu untuk merumuskan sendiri definisi-definisi tersebut secara tepat, belum mampu menguasai symbol verbal dan ide-ide abstrak.
d.Tahap Operasi Formal (Formal Operation Stage)
Tahap operasi formal berlangsung saat anak berumur 11 tahun dan seterusnya. Tahap merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Penggunaan benda-benda konkrit tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung. Penalaran yang terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan symbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan. Karakteristik lain dari anak pada tahap ini ialah telah memiliki kemampuan untuk melakukan penalaran hipotetik-deduktif, yaitu kemampuan untuk menyusun serangkaian hipotesis dan mengujinya. Selain itu, pada tahap ini anak telah memiliki kemampuan berfikir kombinatorial (combinatorial thouht), yaitu kemampuan menyusun kombinasi-kombinasi yang mungkin dari unsur-unsur dalam suatu sistem. Misalnay kombinasi warna, kombinasi beberapa bilangan, dan kombinasi beberapa huruf.

2.2.2 Jerome Bruner
Dalam teorinya menyatakan bahwa belajar akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur.
Bruner dalam teorinya mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesmpatan untuk memanipulasi benda (alat peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu.
Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajarnya anak melewati 3 tahap, yaitu:
1.Tahap Enaktif
Dalam tahap ini anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi objek.
2.Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan anak berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanipulasi objek seperti yang dilakukan siswa dalam tahap enaktif.
Atau dengan kata lain, seseorang memahami objek melalui gambar dan visualisasi verbal.
3.Tahap simbolik
Dalam tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek pada tahap sebelumnya. Siswa pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.
Bruner mengadakan pengamatan ke sekolah-sekolah. Dari hasil pengamatannya itu diperoleh beberapa kesimpulan yang melahirkan dalil-dalil. Dalil-dalil tersebut di antaranya:
a)Dalil penyusunan (konstruksi)
Dalil ini menyatakan bahwa jika anak ingin mempunyai kemampuan dalam hal menguasai konsep, teorema, definisi dan semacamnya, anak harus dilatih untuk melakukan penyusunan representasinya. Untuk melekatkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran, anak-anak harus menguasai konsep dengan mencoba dan melakukannya sendiri. Dengan demikian, jika anak aktif dan telibat dalam kegiatan mempelajari konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan representasi konsep tersebut maka anak akan lebih memahaminya.
Contoh:
Anak yang mempelajari konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan berulang, akan lebih memahami konsep tersebut. Jika anak mencoba sendiri menggunakan garis bilangan untuk memperlihatkan proses perkalian tersebut. Sebagai contoh perkalian, kita ambil 3 x 5, ini berarti pada garis bilangan meloncat 3x dengan loncatan sejauh 5 satuan, hasil loncatan tersebut kita periksa, ternyata hasilnya 15. Dengan mengulangi Hasil percobaan seperti ini, anak akan benar-benar memahami dengan pengertian yang dalam, bahwa perkalian pada dasarnya merupakan penjumlahan berulang.
b)Dalil Notasi
Mengungkapkan bahwa dalam penyajian konsep, notasi memegang peranan penting. Notasi yang digunakan dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mental anak. Ini berarti untuk menyatakan sebuah rumus misalnya, maka notasinya harus dapat dipahami anak, tidak rumit dan mudah dimengerti.
c)Dalil pengkontrasan dan keanekaragaman.
Dinyatakan bahwa pengontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pengubahan konsep dipahami dengan mendalam, diperlukan contoh-contoh yang banyak, sehingga anak mampu mengetahui karakteristik konsep tersebut.
d)Dalil Pengaitan (konektivitas)
Dalil ini menyatakan bahwa dalam matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi rumus-rumus yang digunakan.

2.2.3 David Ausuble
David Ausuble mengemukan teori belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah proses mengaitkan dalam informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Selanjutnya dikatakan bahwa pembelajaran dapat menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi prasyarat, yaitu:
1.Materi yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial
2.Anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna.
Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
Bedasarkan Pandangannya tentang belajar bermakna, maka David Ausuble mengajukan 4 prinsip pembelajaran, yaitu:
1.Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Penggunaan pengatur awal yang tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi , terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
2.Diferensiasi progresif
Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif dipekenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.
3.Belajar superordinat
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami petumbuhan ke arah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep yang lebih luas dan inklusif.
4.Penyesuaian Integratif
Pada suatu saat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausuble mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integrative. Caranya materi pelajaran disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarkhi-hierarkhi konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.
Belajar penangkapan (reception learning) pertama kali dikembangkan oleh David Ausable sebagai jawaban atas ketidakpuasan model belajar diskoveri yang dikembangkan oleh Jerome Bruner tersebut. Menurut Ausubel, siswa tidak selalu mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri sehigga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang telah diajarkan di sekolah. Ausable menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama belajar penangkapan. Para pakar teori belajar penangakapan menyatakan bahwa tugas guru adalah:
a.Menstrukturkan situasi belajar.
b.Memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan siswa
c.Menyajikan materi pembelajaran secara terorganisir yang dimulai dari gagasan
Inti belajar penangkapan yaitu pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh guru mengenai informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori itu terdiri dari tiga tahap, yaitu:


1.Penyajian advance organizer
Advance organizer merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran. Advance organizer berfungsi untuk menghubungakan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berada di dalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang sangat spesifik yang disajikan.
2.Penyajian materi atau tugas belajar.
Dalam tahap ini, guru menyajikan materi pembelajaran yang baru dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada siswa.
Ausuble menekankan tentang pentingnya mempertahankan perhatian siswa, dan juga pentingya pengorganisasian meteri pelajaran yang dikaitkan dengan struktur yang terdapat di dalam advance organizer. Dia menyarankan suatu proses yang disebut dengan diferensiasi progresif, dimana pembelajaran berlangsung setahap demi setahap, dimulai dari konsep umum menuju kepada informasi spesifik, contoh-contoh ilustratif, dan membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.
3.Memperkuat organisasi kognitif.
Ausable menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan informasi baru ke dalam stuktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, dengan cara mengingatkan siswa bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum. Pada akhir pembelajaran ini siswa diminta mengajukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai tingkat pemahamannya terhadap pelajaran yang baru dipelajari, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorgnaisasian materi pembelajaran sebagaimana yang dideskripsikan di dalam advance organizer samping itu juga memberikan pertanyaan kepada siswa dalam rangka menjaga keluasan pemahaman siswa tentang isi pelajaran.

2.3 Aplikasi Teori Belajar Kognitif
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran tidak lagi mekanistik sebagaimana pada teori behavioristik namun dengan memperhitungkan kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar agar belajar lebih bermakna bagi siswa.
Karakteristik dari proses belajar ini adalah:
a. Belajar merupakan proses pembentukan makna berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki melalui interaksi secara langsung dengan obyek.
b. Belajar merupakan proses pengembangan pemahaman dengan membuat pemahaman baru.
c. Agar terjadi interaksi antara anak dan obyek pengetahuan, maka guru harus menyesuaikan obyek dengan tingkat pengetahuan yang sudah dimiliki anak.
d. Proses belajar harus dihadirkan secara autentik dan alami. Anak dihadirkan dalam situasi obyek sesungguhnya dan harus sesuai dengan perkembangan anak.
e. Guru mendorong dan menerima otonomi dan insiatif anak.
f. Memberi kegiatan yang menumbuhkan rasa keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan ide dan mengkomunikasikannya dengan orang lain.
g. Guru menyusun tugas dengan menggunakan terminologi kognitif yaitu meminta anak untuk mengklasifikasi, menganalisa, memprediksi.
h. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk merespon proses pembelajaran.
i. Guru memberi kesempatan berpikir setelah memberi pertanyaan.







DAFTAR RUJUKAN


Implikasi Pendidikan, Pembelajaran, dan Pengajaran, (Online), (http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/forum/viewtopic.php?id=43, diakses tanggal 1 Oktober 2009).
Lucky. 2009. Teori belajar Kognitif, (Online), (http://win79.blogspot.com/2009/04/teori-belajar-kognitif_06.html, diakses tanggal 1 Oktober 2009).
Tim MKPBN Jurusan Pendidikan Matematika.2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JlCA-Universitas Pendidikan Indonesia.