Jumat, 14 Mei 2010

Hakekat Belajar

Hakekat Belajar



A. Definisi Belajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.



Ciri-Ciri Umum Pendidikan, Beiajar, dan Perkembangan

Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan

1. Pelaku


Guru sebagai pe-laku mendidik dan siswa yang terdidik
Siswa yang ber-tindak belajar atau pebelajar
Siswa yang meng-alami perubahan

2. Tujuan
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh
Memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup
Memperoleh per­ubahan mental

3. Proses
Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar
Internal pada diri pebelajar
Internal pada diri pebelajar

4. Tempat
Lembaga pen-didikan sekolah dan luar sekolah
Sembarang tem-pat


Sembarang tempat



5.Lama waktu
Sepanjang hayat dan sesuai jenjang lembaga
Sepanjang hayat


Sepanjang hayat



6.Syarat terjadi
Guru memiliki ke-wibawaan pen-didikan r,
Motivasi belajar kuat

X
Kemauan mengubah diri



7.Ukuran Keber-hasilan
Terbentuk pribadi terpelajar
Dapat meme-cahkan masalah
Terjadinya per­ubahan positif

8. Faedah
Bagi masyarakat menc erdaskan kehidupan baiigsa
Bagi pebelajar mempertinggi martabat pribadi
Bagi pebelajar mem-perbaiki kemajuan mental

9. Hasil
Pribadi sebagai pembangun yang produktif dan kreatif
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring
Kemajuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik




Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan? Oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar.

a. Belajar Menurut Pandangan Skinner

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

(i) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar,

(ii) respons si pebelajar, dan

(iii) konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuatterjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberihadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.



Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Pandangan Skinner ini terkenal dengan nama teori Skinner. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (i) pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan (ii) penggunaan penguatan. Sebagai ilustrasi, apakah guru akan mcminta respons ranah kognitif atau afektif. Jika yang akan dicapai adalah sekadar "menyebut ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta," tentu saja siswa hanya dilatih menghafal.

Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan sebagai berikut:

(1) Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positf atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.

(2) Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.

(3) Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.

(4) Kecmpat, membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjulnya (Davidoff, 1988: 199-211; Gredler, 1991: 154-166; Sumadi Suryabrata, 1991; Hilgard dan Bower, 1966: 114-131; Woolfolk & McCune-Nicolish, 1984: 170-179).



b. Belajar Menurut Gagne

Mcnurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki . kclcrampilan, penqetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabrumenuilitas tcrsebut adalah dan i) stimulasi yang berasal dan lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah sepcrangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Scbagai ilustrasi, siswa kelas tiga SMP mempelajari nilai luhur Pancasila. Mereka membaca berita di surat kabar tentang bencana alam gcmpa bumi di Flores dan banjir di beberapa provinsi di Jawa. Mcrcka bersama-sama mengumpulkan bantuan bencana alam dari orang tua siswa SMP. Mereka mampu mengumpulkan 4 kuintal beras, 100 potong pakaian, dan uang sebesar Rp 5.000.000,00. Hasil bantuan tcrsebut kcmudian mereka serahkan ke Palang Merah Indonesia yang mcngkoordinasi bantuan di kota setempat. Perilaku siswa mengumpulkan sumbangan tcrsebut merupakan hasil belajar nilai luhur Pancasila. Hal ini merupakan dampak pengiring.

Mcnurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi ckstcrnal, kondisi internal, dan hasil belajar.

Gagne berpendapat bahwa dalam belajar terdiri dari tiga tahap yang meliputi sembilan fase. Tahapan itu sebagai berikut: (i) persiapan untuk belajar, (ii) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi), dan (iii) alih belajar. Pada tahap persiapan dilakukan Undakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan kembali informasi. Pada tahap pemerolehan dan performansi digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan pemberlakuan secara umum. Adanya tahap dan fase belajar tersebut mempermudah guru untuk melakukan pembelajaran.

Dalam rangka pembelajaran maka guru dapat menyusun acara pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase-fase belajar. Pola hubungan antara fase belajar dengan acara-acara pembelajaran tersebut dapat dilukiskan dalam Tabel 1.2 berikut. Pola pem­belajaran tersebut dapat digunakan untuk pedoman pelaksanaan kegiatan belajar di kelas. Sudan barang tentu guru masih harus menyesuaikan dengan bidang studi dan kondisi kelas yang sebenamya. Guru dapat memodifikasi seperlunya.



c. Belajar Menurut Pandangan Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

Perkembangan intelektual melalui lahap-tahap berikut. (i) sensori motor (0;0-2;0 tahun) (ii) pra-opcrasional (2;0-7;0 tahun), (iii) koiikrct (7;0-I1;U lahun), dan (iv) operasi formal (11;0-ke atas)

Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, pcnciuman, pendengaran, perabaan dan menggerak-gerakannya. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. la telah mampu menggunakan simbol, huliasu. konsep scderliana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap operasi konkret anak dapat mengem-bangkiin pikiran logis. la dapat mengikuti penalaran logis, walau kadaiig-kadang memecahkan masalah secara "trial and error". Pada luhap opcrasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dcwasa.

Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun scndiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bcntuk, yaitu pcngclulman fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan social

Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dcngan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.

Menurut Piagiet, pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut.

(1) Langkah satu: Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa pertanyaan, seperti berikut:

(a) Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi?

(b) Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok.

(c) Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi secara fisik sebelum secara verbal)

(2) Langkah dua: Memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut. Hal ini dibimbing dengan pertanyaan seperti:

(a) Apakah aktivitas itu mcmbcri kesempatan untuk melaksanakan metode eksperimen?

(b) Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa?

(c) Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara belajar dalam mengikuti kegiatan di kelas?

(d) Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?

(e) Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?

(f) Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari?



(3) Langkah tiga: Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. Bimbingan pertanyaan berupa:

(a) Pertanyaan lanjut yang memancing berpikir seperti "bagaimana jika"?

(b) Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan?



(4) Langkah empat: Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan, dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan seperti:

(a) Segi kegiatan apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar?

(b) Segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya?

(c) Apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?

(d) Apakah kegiatan itu dapatdijadikan modal untukpembelajaran lebih lunjut?



Secara singkat, Piaget menyarankan agar dalam pembelajaran guru memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi (Bell Brcdlcr, 1991: 301-357; Davidoff, 1988: 371-JIM; Daliar. 19X8: 179-201; Winkel, 1991: 38-39; Woolfolk & McCune Nicolich, 1984: 46-47)



d. Belajar Menurut Rogers

Rogers mcnyayangkan praktek pcndidikan di sekolah tahun 1960 an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.

Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan dan pembelaiaran tersebut sebagai berikut:

(1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.

(2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.

(3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan idc baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

(4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus- menerus.

(5) Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.

(6) Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat member peluang untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri. Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder.

(7) Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.



Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembe­lajaran yang perlu dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran itu meliputi hal berikut:

(1) Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur.

(2) Guru dan siswa membuat kontrak belajar,

(3) Guru menggunakan metode inkuiri, atau belajar menemukan (discovery learning). (4) Guru menggunakan metode simulasi

(5) Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain.

(6) Guru bertindak sebagai fasilitator belajar.

(7) Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas (Snelbecker, 1974: 483-494; Skager, 1984: 33; Bergan dan Dunn, 1976: 122-128).



Keempat pandangan tentang belajar tersebut merupakan bagian kecil dari pandangan yang ada. Untuk kepentingan pembelajaran, para guru dan calon guru masih harus mempelajari sendiri dari psikologi belajar. Di samping itu, para guru masih perlu memilih teori yang relevan bagi bidang studi asuhannya. Guru juga perlu memodifikasi secara praktis sesuai dengan kondisi perilaku siswa belajar.



B. Prinsip-Prinsip Belajar

Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajamya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajamya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

a. Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.

Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Berliner, 1984: 372).

"Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to initiate and direct behavior" demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986:3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sarnpai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu ftiktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.

Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dlanggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan nktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang bclajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa incnanamkan sikap positif pada din siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant condition!ng-nya. (Hal Ini dibicarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).

Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya Ncndiri, dapat juga bersifat ekstemal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan alas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pcndorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh. seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pclajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipclajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang diiakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.

Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat ekstemal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat internal maupun ekstemal, walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang disebut’’transformasi motif’’. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menye-nangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.



b. Keaktifan

Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916, dalam Davies, 1937:31).

Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar mcnyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, I '> 84:267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dun mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, incncmukan, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak mampu mengidentifikasi, niorumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, incnafsirkan, dan menarik kesimpulan. ,

Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlu-kaii adanya latihan-latihan. Me Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan "manusia belajar yung aktif selalu ingin tahu, sosial" (Me Keachie, 1976:230 dari Uredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).

Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkah keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik-yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keicrampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam mnnecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis ymig lain.



c. Keterlibatan Langsung Berpengalaman

Di muka telah dibicarakan bahwa belajar haruslah dilakukan wndiri oleh siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa ililimparikan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan (K-iigalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya nirngcmukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secant langsung tetapi ia harus incii)'hayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab Irihadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia te'rlibat secara langsung dalam pembuatannya (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar urang berccrita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).

Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan "learning by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami mclalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memccahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pcmbimbing dan fasilitator.

Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan flsik scmata, namun lebih dan itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan. ,

d. Pengulangan '''?•" :

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Mcnurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.

Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukum belajamya "law of exercise", ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah "latihan menjadikan sempuma" (Thorndike, 1931b:20, dan Gredler, Margaret E Bell, terjemahan Munandir, 1991: 51). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam bclajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning rtspons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus, tetapi juga oleh Nlimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mcndcngar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu lalu lintas Ix-rwama merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dun belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku Him respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, nu-ngulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, Idapi dapat juga oleh stimulus penyerta.

Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan kciiga pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan nirmbentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga Icon tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua hcniuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar masih tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984: 259).



e. Tantangan

Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan [bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu Injuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu Lincmpelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ll nkan niasuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dlhadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mcngatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mcmpelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mcncmukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan mcnycbabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah dlolali sccara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kuiang mcnarik bagi siswa. ,

Pcnggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberi-kan lantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan mcnimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.



f. Balikan dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mcndapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984:272).



g. Perbedaan Individual

Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, fcn-Kidian, dan sifat-sifatnya.

Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa -sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Pernbelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Di samping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa schingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akun merusakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sckundcr dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan guru tcrimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.

Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kcgiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran bcrlangsung. Namun demikian, perlu disadari bahwa implementasi prinsip priasip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. Agar Anda mendapat kejelasan tentang implikasi prinsip-prinsip bclajar bagi siswa dan guru, uraian berikut ini dapat membantu Anda memperolehnya.

C. TIPE-TIPE BELAJAR

a. Tipe Visual.

Mereka dengan tipe ini lebih menyukai belajar ataupun menerima informasi dengan melihat atau membaca. Bila berkomentar demikian; Hal itu bisa saya lihat sekarang. Saya ingin mengetahui gambaran detailnya. Kelihatannya perbuatan orang itu benar. Saya bisa ciri-ciri yang lain; (1) Mudah mengingat apa yang dilihat (2) Lebih senang membaca sendiri (3) Dapat membaca cepat (4) Dapat membayangkan kata-kata (5) Tidak terganggu oleh suara (6) Berpenampilan rapi (7) Menyukai mendemontrasikan daripada menjelaskan (8) Kebiasaan mencoret-coret (9) Menyukai seni yang tidak berhubungan dengan musik.



b. Tipe Auditorik.

Mereka cenderung belajar atau menerima informasi dengan mendengarkan atau secara lisan. Biasanya perkataannya; Perkataan orang itu kedengarannya benar. Saya dengar apa yang kamu bilang. Dengarkan saya dulu. Saya dengar anda tidak senang atas perlakuan orang itu. Adapun ciri-ciri yang lain adalah; (1) Lebih senang belajar dengan cara mendengarkan (2) Mudah mengingat yang diterangkan daripada melihat (3) Membaca dengan bersuara (4) Mudah terganggu oleh suara berisik (5) Biasanya pembicara ulung (6) Senang berbicara dan berdiskusi (7) Lebih menyukai musik.



c. Tipe Kinestetik.

Lebih menyukai belajar atau menerima informasi melalui gerakan atau sentuhan. Biasanya kata-katanya; Rasanya hal itu ada benarnya. Saya kesulitan menangani masalah itu. Coba beri saya contoh konkritnya. Saya masih belum menemukan kepastian. Sepertinya kata-kata orang itu bisa saya pegang. Adapun ciri-ciri yang lain adalah: (1) Tidak bisa diam saat belajar (2) Tidak dapat duduk diam dalam jangka waktu yang lama (3) Mendekati orang yang diajak berbicara (4) Menggunakan jari sebagai petunjuk (5) Suka menyentuh orang saat bicara (6) Sulit mengingat tempat bila belum pernah ke sana (7) Menyukai bahasa isyarat (8) Menyukai seni tari.







Daftar Pustaka



Gredler, Bell, Margareth E. 1991. Belajar dan Membelajarkan (terjemahan Munandir) . Jakarta: Rajawali Pers.

Dimyati, Drs. dan Mudjiono, Drs. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT ASDI MAHASATYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar